Vol. 1 No. 2 (2026): OPOSISI: Jurnal Politik, Agama, dan Budaya

					View Vol. 1 No. 2 (2026): OPOSISI: Jurnal Politik, Agama, dan Budaya

Edisi kedua OPOSISI: Jurnal Politik, Agama, dan Budaya menegaskan komitmen jurnal ini sebagai ruang refleksi kritis atas relasi kuasa, wacana keagamaan, dan dinamika sosial kontemporer. Tema-tema yang hadir dalam edisi ini memperlihatkan bahwa oposisi bukan sekadar sikap politik, melainkan sebuah tradisi intelektual yang hidup dalam sejarah pemikiran manusia—baik dalam filsafat klasik, gerakan sosial-keagamaan, hingga konstruksi epistemologi Islam.

Artikel pertama, “Demagogi dan Kepemimpinan Filsuf: Kritik Plato atas Demokrasi dan Relevansinya bagi Politik Kontemporer”, menghidupkan kembali perdebatan klasik dari Plato mengenai degenerasi demokrasi. Kritik terhadap demagogi dibaca ulang dalam konteks populisme modern, memperlihatkan bagaimana demokrasi dapat kehilangan orientasi moral ketika kepemimpinan tercerabut dari kebijaksanaan.

Tulisan kedua, “Deviasi Khittah dan Politik Oposisi Lokal: Komunikasi Politik Mathla’ul Anwar dalam Kontestasi Elektoral Banten”, menghadirkan analisis empiris tentang dinamika organisasi Islam dalam pusaran politik lokal. Dengan menelaah Mathla’ul Anwar, artikel ini memperlihatkan bagaimana konsep khittah mengalami negosiasi ketika berhadapan dengan realitas elektoral dan kepentingan kekuasaan.

Sementara itu, “Ruang Publik Pesantren dan Peranan Keluarga dalam Politik Perempuan Muslim” menggeser perhatian pada arena sosial-budaya pesantren. Artikel ini menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya institusi pendidikan keagamaan, tetapi juga ruang produksi kesadaran politik, di mana keluarga berfungsi sebagai mediator penting dalam membentuk partisipasi politik perempuan.

Artikel keempat, “Etika Kritik dalam Pemikiran Al-Ghazali: Reinterpretasi Tanggung Jawab Moral dalam Kritik Sosial-Politik Kontemporer”, merekonstruksi pemikiran Al-Ghazali sebagai fondasi etika kritik. Dalam konteks polarisasi politik dewasa ini, gagasan al-Ghazali tentang tanggung jawab moral dan adab al-ikhtilaf menawarkan model oposisi yang berakar pada integritas spiritual, bukan sekadar resistensi retoris.

Terakhir, “Beyond Dichotomy: Integrasi Wahyu dan Akal dalam Bangunan Pengetahuan Islam” membawa pembaca pada refleksi epistemologis yang lebih mendasar. Artikel ini menolak dikotomi antara wahyu dan rasio, serta menawarkan sintesis integratif sebagai fondasi pembaruan pemikiran Islam dalam menjawab tantangan modernitas.

Secara keseluruhan, kelima artikel dalam edisi ini membentuk satu benang merah: oposisi sebagai etos intelektual. Oposisi bukanlah destruksi, melainkan koreksi; bukan pembelahan, melainkan upaya menjaga keseimbangan antara nilai, kekuasaan, dan moralitas. Dari Plato hingga al-Ghazali, dari organisasi lokal hingga ruang pesantren, edisi ini menegaskan bahwa tradisi kritik adalah bagian inheren dari peradaban. Melalui edisi kedua ini, OPOSISI tidak sekadar menjadi wadah publikasi ilmiah, tetapi juga ruang dialektika yang menumbuhkan keberanian berpikir, kedalaman refleksi, dan tanggung jawab moral dalam membaca politik, agama, dan budaya Indonesia kontemporer.

 

Published: 2026-02-14