About the Journal
OPOSISI: Jurnal Politik, Agama, dan Budaya adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang. Jurnal ini berfungsi sebagai ruang akademik untuk mempublikasikan hasil penelitian, kajian konseptual, maupun refleksi kritis yang menyoroti hubungan dinamis antara politik, agama, dan budaya dalam konteks lokal, nasional, maupun global.
Jurnal ini lahir dari kesadaran bahwa politik, agama, dan budaya tidak pernah hadir secara terpisah, melainkan saling bertaut dan membentuk realitas sosial. Di sinilah “oposisi” dipahami bukan sekadar perlawanan, tetapi sebagai sikap kritis, reflektif, dan transformatif dalam menghadapi kekuasaan, wacana dominan, serta dinamika perubahan masyarakat.
Fokus dan ruang lingkup (scope) jurnal ini mencakup kajian: 1) Politik Islam, demokrasi, dan relasi negara–agama; 2) Gerakan sosial, oposisi politik, serta praktik perlawanan dalam perspektif Islam maupun lintas tradisi; 3) Budaya dan agama dalam dialektika kekuasaan, identitas, dan resistensi; 4) Pemikiran politik klasik dan kontemporer, baik dalam tradisi Islam maupun pemikiran global; 5) Isu-isu aktual terkait keadilan sosial, pluralisme, hak asasi manusia, dan kebudayaan di era modern.
OPOSISI berkomitmen untuk: 1) Menjadi wadah pertukaran gagasan akademik antara peneliti, dosen, mahasiswa, dan praktisi; 2) Menjadi forum ilmiah yang mengkaji secara kritis relasi antara Islam, kekuasaan, dan budaya dalam berbagai konteks lokal maupun global; 3) Mendorong produksi pengetahuan berbasis riset mendalam dan argumentasi akademik yang kuat; 4) Memberikan kontribusi terhadap pengembangan studi politik Islam, tafsir sosial-keagamaan, dan dinamika budaya kontemporer.
Dengan semangat “Kritik, Resistensi, dan Transformasi”, jurnal ini diharapkan dapat menjadi rujukan ilmiah yang memperkaya wacana politik, agama, dan budaya di Indonesia maupun dunia.
Current Issue
Edisi kedua OPOSISI: Jurnal Politik, Agama, dan Budaya menegaskan komitmen jurnal ini sebagai ruang refleksi kritis atas relasi kuasa, wacana keagamaan, dan dinamika sosial kontemporer. Tema-tema yang hadir dalam edisi ini memperlihatkan bahwa oposisi bukan sekadar sikap politik, melainkan sebuah tradisi intelektual yang hidup dalam sejarah pemikiran manusia—baik dalam filsafat klasik, gerakan sosial-keagamaan, hingga konstruksi epistemologi Islam.
Artikel pertama, “Demagogi dan Kepemimpinan Filsuf: Kritik Plato atas Demokrasi dan Relevansinya bagi Politik Kontemporer”, menghidupkan kembali perdebatan klasik dari Plato mengenai degenerasi demokrasi. Kritik terhadap demagogi dibaca ulang dalam konteks populisme modern, memperlihatkan bagaimana demokrasi dapat kehilangan orientasi moral ketika kepemimpinan tercerabut dari kebijaksanaan.
Tulisan kedua, “Deviasi Khittah dan Politik Oposisi Lokal: Komunikasi Politik Mathla’ul Anwar dalam Kontestasi Elektoral Banten”, menghadirkan analisis empiris tentang dinamika organisasi Islam dalam pusaran politik lokal. Dengan menelaah Mathla’ul Anwar, artikel ini memperlihatkan bagaimana konsep khittah mengalami negosiasi ketika berhadapan dengan realitas elektoral dan kepentingan kekuasaan.
Sementara itu, “Ruang Publik Pesantren dan Peranan Keluarga dalam Politik Perempuan Muslim” menggeser perhatian pada arena sosial-budaya pesantren. Artikel ini menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya institusi pendidikan keagamaan, tetapi juga ruang produksi kesadaran politik, di mana keluarga berfungsi sebagai mediator penting dalam membentuk partisipasi politik perempuan.
Artikel keempat, “Etika Kritik dalam Pemikiran Al-Ghazali: Reinterpretasi Tanggung Jawab Moral dalam Kritik Sosial-Politik Kontemporer”, merekonstruksi pemikiran Al-Ghazali sebagai fondasi etika kritik. Dalam konteks polarisasi politik dewasa ini, gagasan al-Ghazali tentang tanggung jawab moral dan adab al-ikhtilaf menawarkan model oposisi yang berakar pada integritas spiritual, bukan sekadar resistensi retoris.
Terakhir, “Beyond Dichotomy: Integrasi Wahyu dan Akal dalam Bangunan Pengetahuan Islam” membawa pembaca pada refleksi epistemologis yang lebih mendasar. Artikel ini menolak dikotomi antara wahyu dan rasio, serta menawarkan sintesis integratif sebagai fondasi pembaruan pemikiran Islam dalam menjawab tantangan modernitas.
Secara keseluruhan, kelima artikel dalam edisi ini membentuk satu benang merah: oposisi sebagai etos intelektual. Oposisi bukanlah destruksi, melainkan koreksi; bukan pembelahan, melainkan upaya menjaga keseimbangan antara nilai, kekuasaan, dan moralitas. Dari Plato hingga al-Ghazali, dari organisasi lokal hingga ruang pesantren, edisi ini menegaskan bahwa tradisi kritik adalah bagian inheren dari peradaban. Melalui edisi kedua ini, OPOSISI tidak sekadar menjadi wadah publikasi ilmiah, tetapi juga ruang dialektika yang menumbuhkan keberanian berpikir, kedalaman refleksi, dan tanggung jawab moral dalam membaca politik, agama, dan budaya Indonesia kontemporer.
